Halaman UtamaBiografiMotivasiMisi & VisiProgram KerjaNewsLetter

Persembahan dari Tim Sukses "Buyung untuk Ketua PPI Groningen 2004/2005"

Daftar isi:

Kenapa Misi - Visi?

MISI

Kupas Masalah

Analisa: Metoda Tulang Ikan

Kesimpulan

VISI

Penjabaran Visi


Kenapa Misi - Visi?

(Kuliah singkat langsung dari si Buyung)

Ya, kenapa bukan Visi - Misi sebagaimana lumrahnya disebut? Di sini, kami memakai paradigma baru Misi-Visi. Seperti apa? Berikut penjelasannya.

Misi adalah muatan atau tanggungjawab yang hadir karena keberadaan kita di tengah masyarakat. Visi adalah pencapaian dari Misi. Perhatikan contoh berikut.

"Saya ke Groningen untuk melanjutkan sekolah saya. Saya membawa misi dari (1) Orang tua: berbakti pada orang tua yang berkeinginan memiliki anak yang berpendidikan tinggi, menyelesaikan kuliah secepat mungkin mengingat duit orang tua; (2) Teman-teman: membantu saling mengisi kebutuhan selama diperantauan, bersosialisasi dalam bentuk pertemanan individu maupun organisasi; (3) Diri sendiri: memenuhi hasrat untuk belajar ilmu tertentu, mengejar cita-cita; (4) Pacar: menyelesaikan kuliah secepat mungkin untuk segera nikah; (5) dan lain sebagainya. Sementara visinya adalah: Ke Groningen 2 tahun untuk kuliah di RuG.

Contoh lain adalah saya diundang teman untuk menghadiri acara pernikahannya di Bandung. Misi saya jelas: menghadiri acara pernikahan teman. Visinya adalah: ke Bandung naik mobil melewati puncak.

Dari penjelasan di atas bisa diamati bahwa dalam sebuah pergerakan (baik organisasi maupun pribadi), kita harus menemukan dulu misi pergerakan itu, baru kemudian tetapkan visinya. Menerapkan visi tanpa mendefenisikan misi terlebih dulu adalah seperti "mau ke Bandung", tap kagak tau kenapa harus ke Bandung atau mau ngapain di sana.

Paradigma baru ini sebenarnya baru diperkenalkan di akhir era 90-an. Perusahaan Singapore Airline termasuk yang pertama merubah paradigma misi-visi mereka, begitu juga dengan Motorola, GE dan perusahaan besar lainnya. PerkinElmer, perusahaan tempat saya pernah bekerja, juga sudah memakai paradigma baru ini. Saya sendiri mengikuti training ini dua kali: pertama sewaktu masih kuliah (kuliah Kapita Selekta), dan pelatihan resmi (Leadership and Management training) dari perusahaan saya.

 

MISI

Secara makro, PPI-Groningen hadir diantara 3 komponen penting yang terakit langsung dengan keberadaan organisas ini: anggotanya, masyarakat Indonesia yang ada di kota Groningen, dan bangsa Indonesia tanah air kita semua. Masing-masing komponen menitipkan misinya pada PPI Groningen.

  1. Dari anggota: menyediakan bantuan advokasi.
  2. Dari masyarakat: menjadi agen perubah, agen kontrol sosial, dan agen penerus bangsa.
  3. Dari bangsa: menjadi gudang berpikir (think tank) dan berkontribusi nyata pada permasalahan bangsa

 

Kupas Masalah: Pencarian Visi

Untuk pencapaian dari 3 misi tersebut, organisasi PPI-Groningen dituntut harus berpihak pada anggota, masyarakat, dan bangsa. Semua kegiatan yang dilakukan harus mencerminkan aspirasi pada 3 komponen ini (anggota, masyarakat, bangsa). Tentu saja, secara realistis pencapaian ini harus bertahap. Bisa saja dibuatkan skenario besar (grand design) organisasi dalam 5 tahun ke depan untuk mencapai proporsional yang optimal untuk menjalankan tanggung jawab (misi) ini.

Penetapan visi juga harus melihat kondisi dan permasalahan yang ada. PPI-G tidak bisa dengan serta-merta membuat visi, program kerja, atau apapun tanpa melihat dulu secara luas (hellicopter view) semua faktor yang ada, dari dalam tubuh organisasi sendiri (internal) dan juga dari luar organisasi (eksternal). Yang jadi pertanyaan selanjutnya: apa kondisi dan permasalahan sekarang? Berikut gambaran makronya.

Kondisi (internal dan eksternal)

  1. Ada lebih 300 warga Indonesia tersebar di Groningen dengan strata sosial, umur dan pendidikan yang sangat bervariasi.
  2. Banyak sekali bibit, potensi, bakat, dan kemampuan yang dibawa setiap individu maupun secara kelompok pada 300 lebih warga Indonesia tersebut.
  3. Setiap individu memiliki ketertarikan pada spesifik isu. Kumpulan individu yang memilik ketertarikan yang sama kemudian membentuk kelompok. Di Groningen ada banyak sekali kelompok baik yang diorganisasikan maupun yang masih berupa paguyuban.
  4. Pelajar Indonesia di Groningen memiliki satu wadah bersama untuk beraktivitas, yaitu PPI-G
  5. Semua perbedaan yang ada, memiliki dua kesamaan menarik: bahwa kita hidup bersama-sama di negeri rantau, DAN tetap plural (heterogen).

Permasalahan

  1. Negara dan Bangsa Indonesia yang masih sakit, sedikit banyak memberikan pengaruh pada masyarakat Indonesia di sini.

  2. Situasi Politik Belanda yang juga semakin hari semakin sensitif dengan isu imigran, agama, dan pendidikan. Sementara tiga hal tersebut adalah tiga unsur penting keberadaan kita di sini.
  3. Banyak masyarakat Indonesia di sini yang rindu pada hal-hal dimana mereka bisa mengekspresikan kecintaan pada tanah tumpah darah dan kebutuhan sosialisasi atau aktualisasi diri mereka. Atau malah, mereka sudah mulai terkikis rasa kecintaan karena tidak ada yang mengingatkan dan sudah apatis karena kebutuhan tersebut tidak bisa didapatkan.
  4. Organisasi PPI-G sendiri yang belum optimal fungsinya untuk menjalankan 3 tanggung jawab utamanya (misi).

Analisa

Dari 4 permasalahan makroskopik tersebut, poin 4 adalah yang sangat kritis harus dituntaskan. Kami yakin, begitu PPI-G bisa mengoptimalkan fungsinya, maka akan banyak kontribusi yang bisa diberikan PPI-G pada anggota, masyarakat, dan bangsa.

Namun, masalah ini menjadi kajian internal yang dalam dan tingkat kompleksitas yang cukup tinggi. Metoda "kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, dan kenapa" (5 Whys method) bisa dilayangkan pada setiap permasalahan yang ada, sehingga pada satu titik ditemukan nanti akar permasalahan (root cause).

Metoda lain untuk mencari root cause adalah dengan "Diagram Tulang Ikan" (fishbone diagram), atau disebut juga "Diagram sebab-akibat" (cause & effect Diagram). Metoda ini dimulai dengan "pembadaian otak" (brainstorming) dari beberapa orang untuk mendaftar semua kemungkinan kenapa masalah timbul, kemudian menganalisa permasalahan utama dengan merinci faktor-faktor yang berkontribusi pada masalah tersebut, dan selanjutnya menentukan akar permasalahan untuk diselesaikan.

Silakan klik di sini untuk melihat Diagram Tulang Ikan hasil pembadaian otak kami dalam membahas satu masalah internal PPI yang menurut kami sangat krusial: Kenapa PPI-G tidak  berfungsi optimal.

Kesimpulan

Menurut analisa kami, akar permasalahan kenapa PPI-G tidak optimal dalam menjalankan fungsinya adalah keanggotaan yang sangat majemuk (heterogen, bervariasi). Satu kata yang mewakili adalah: PLURALITAS.

 

VISI

Setelah menyimpulkan masalah tersebut, jelas sekali terlihat bahwa PPI-G harus sanggup menghadapi masalah kemajemukan anggota ini, karena dengan demikan satu batu sandangan terbesar untuk mengoptimalkan fungsi PPI-G berkurang.

Dengan demikian, visi yang kami usung adalah: Pluralitas adalah perpaduan Kekuatan dan Keindahan.

Kami memandang, pluralitas adalah salah satu sifat alamiah manusia dan masyarakat yang tidak bisa dihilangkan. Pluralitas menjadi masalah yang pelik, namun di bawah kepemimpinan dan manajemen yang tepat justru akan menjadi sebuah kekuatan unik. Bayangkan, kemajemukan ilmu dan pengetahuan anggotanya (ada yang dari ekonomi, politik, hukum, pendidikan) kalau dibuatkan jaringan kerjanya (seperti seminar, forum diskusi) akan memberikan kontribusi yang nyata pada anggota (ada tempat untuk saling mengisi dan berbagi ilmu satu sama lain), masyarat (peningkatan ilmu pengetahuan dasar masyarakat terhadap satu masalah secara komprehensif), dan bangsa (memberikan solusi-solusi tepat guna bagi beberapa masalah bangsa yang terkait).

Penjabaran visi

Jelas, visi tersebut harus dijabarkan dalam program kerja nantinya dalam bentuk sebuah "Konsep Program Kerja". Konsep program kerja ini akan menjadi jiwa dan semangat dari setiap acara yang dilakukan oleh PPI-G.

Konsep program kerja kami jabarkan dalam 3 poin:

  1. Menjadi pelayan pada anggota dengan spektrum kebutuhan seluas mungkin dengan melibatkan partisipan yang semajemuk mungkin. Realitas tingkat prioritas adalah. Anggota - Masyakarat - Bangsa
  2. Berpikir global bertindak lokal. Ini adalah untuk menghindari program-progam yang omong kosong dan tidak berkontribusi apa-apa baik pada anggota, masyarakat, apa lagi ke bangsa. Kita harus berpikir sampai ke langit, tapi harus ada tindakan nyata sekurang-kurangnya untuk level kampung kecil.
  3. Membudayakan berorganisasi di antara para anggota dan pengurus. Mengingat organisasi PPI-G adalah organisasi mengalir, yang artinya anggotanya datang-pergi silih berganti, jelas tidak gampang untuk memelihara gaya dan selera. Walau demikian, tetap masih ada hal yang bisa diwariskan: budaya. Kalau kita bisa membudayakan beroganisasi, siapapun yang datang akan terbawa oleh nuansa itu. Ini adalah hukum alam: orang baru cendrung mengikuti pola yang sudah ada pada lingkungan barunya.

Kembali ke atas

Persembahan dari Tim Sukses "Buyung untuk Ketua PPI Groningen 2004/2005"